Menjadi
mahasiswa yang sudah tak baru lagi adalah hal efisiensi yang paling menegangkan
dalam langkah awal. Selama perjalanan
dua semester terlewati menjadi mahasiswa yang cukup elegan dan penuh
pengamatan menjadikan ruang terkhusus sendiri dalam setiap catatan manfaat yang
didapat. Begitu pula selama anjakan kaki ini menghadapi ruang semester 3,
dimana banyak adanya pembelajaran baru yang dimulai sesuai dengan eskalasi yang
diinginkan.
Catatan perjalan diperkuliahan saat
saya berada disemester 3 banyak hal baru yang didapatkan baik segi akademisi
maupun organisasi. Dua hal tersebut menjadikan tolak ukur penting dalam
menyeimbangkan diri saat berpegang menjadi mahasiswa. Proses untuk menjadi
mahasiswa semester tiga tidaklah mudah dan tidaklah cukup banyak meluangkan
diri setiap waktunya. Banyak mata perkuliahan baru yang didapat dengan model 60
% praktikum yang lumayan cukup menguras tenaga dan pikiran. Berbeda halnya
dengan semester 1 dan 2 dahulu, yang memiliki mata perkuliahan dengan praktek
yang bisa dibilang lebih ringan dibandingkan sekarang. Di semester 3 ini saya
mulai merasakan bahwa saya ini benar adanya disebut sebagai mahasiswa TEKNIK,
karena pada perkuliahan pokoknya ada pembelajaran mengenai elemen mesin, proses
manufaktur yang dilengkapi dengan praktikum pembubutan dan pengelasan,
menggambar teknik dengan media penggambaran sama halnya mahasiswa teknik sipil,
mekanika fluida yang memberikn nilai praktikum ketelitian dan kekaurasian data
yang konkret, serta instrumentasi atau alat ukur.
Semua mata pembelajaran tersebut
bagi saya masih asing ketika saya berada disemester 3. Berawal dari yang tidak
pernah menyentuh alat pengelasan sama sekali hingga ketika diajari dalam proses
praktikum tersebut bisa menghasilkan suatu alat atau kebutuhan rumah tangga
atau manusia dari hasil pengelasan sendiri. Kemudian, yang paling menantang
kembali ketika saya dihadapkan dengan selembar kertas A3, pensil, penggaris,
serta meja gambar. Yang mana objek gambar tersebut tidaklah selalu mudah untuk
digambarkan melainkan harus memiliki proporsional dan ukuran yang benar-benar
nyata. Hal yang patut dapat diambil manfaatnya saat semester 3 ini, materi
perkuliahan yang saya depatkan dengan atas nama jurusan Teknik Energi
Terbarukan tidak terpusat hanya permasalah energinya saja melainkan modal jiwa
teknik yang diberikan untuk dapat multitalent dan bisa disemua bidang teknik
untuk membawanya kelak nanti kepemanfaatan energi.
Berbeda halnya dengan perjalanan
atau kegiatan organisasi saya selama semester 3. Langkah awal baru dengan
amanat yang besar mulai harus dijalani dengan penuh semangat dan tanggung jawab
penuh. Dimana permainan politik, birokrasi dan komunikasi lebih meluas lagi
mulai terjamin dalam hal eskalasi pergerakan saya sebagai mahasiwa. Menjadi
wakil presiden mahasiswa yang bisa dibilang cukup belia bukanlah hal yang
mudah. Tapi hal utama yang selalu saya ingat adalah “Im not the best human being, but im trying. I do. I really do this is
me”. Dan beberapa kegiatan yang dulu pernah saya ikuti mulai dari sebagai
pengurus HMJ-Teknik maupun UKM SKIM, harus saya lepaskan dan terfokus untuk
mengemban amanat dan tugas menjadi perwakilan
suara dari mahasiswa untuk tetap bergerak secara horisontal maupun secara
vertikal.
Tentu
kedua track akademik dan organisasi/kegiatan merupakan hal yang tidak terlepas
dengan adanya penunjang pendidikan yang saya rasakan selama ini. Bicara tentang
pendidikan maka bicara terkait keilmuan dan aplikasi dalam kehidupan nyata.
Pendidikan itu membimbing manusia sebagaimana kodrat kemanusiaannya. Semakin
terdidik, semakin berilmu. Semakin berilmu, semakin kita mengenal pemilik ilmu.
Ilmu dalam aplikasinya tidak bebas nilai. Ilmu selalu memihak, ilmu selalu
memperjuangkan.ruang bagi pencari ilmu harus mampu memberikan ketersediaan yang
mana membuatnya merasa sebagai manusia merdeka dan berdaulat atas pikirnya.
Diasah nurani sehingga mudah
berempati. Banyak mendengar suara dari kantung-kantung kegelisahan. Bahwa dunia
kan selalu memiliki tantangan. Tugas kita adalah menjawab tantangan tersebut
dengan ilmu. Makanya, ada ilmu amaliah serta amal ilmiah. Maka dari itu, mari
kita sebagai generasi muda untuk menyongsong masa depan bangsa yang lebih cerah.
Kita akan terjang segala rintangan yang membuat negeri ini terlampau lama
meratapi kekurangan. Tentu kita ini lemah. Bersujud menghamba pada pemilk ilmu.
Berbisik pada bumi untuk didengar langit.
Hal yang selalu saya ingat yaitu bahwasannya” Doa tanpa usaha itu sama
saja berbohong. Usaha tanpa doa itupun juga sobong. Berlelah-lelahlah, karena
manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang!!”








Tidak ada komentar:
Posting Komentar