Full width home advertisement

EVENT

Post Page Advertisement [Top]

 






            Dear, sobat BSI! 4 months feel like to be passed so fast, I guess? Nyatanya kita kembali lagi dalam peran sebagai seorang pembaca dan penulis dalam essay ini. Baiklah my dearest reader, semester ketigaku ini bisa dinilai berjalan jauh berbeda dengan semester-semester yang lalu, aku mulai banyak disibukkan dengan beberapa komitmen organisasi, kepanitiaan, juga hiruk pikuk program magang secara bersamaan selain harus mengemban tanggung jawab akademikku di kelas. Kuharap pembaca setia essay ini masih ingat betul dengan pernyataanku terkait “menjadi Staff English Development Division di ALSA (Asian Law Student Association) LC UJ”, sebab essay akan kumulai dengan mengurai hangatnya memori yang kubuat di sana. Bulan September awal, aku didapuk menjadi MC (Master of Ceremony) dalam acara TOEFL CLASS, yang berkolaborasi dengan salah satu course bahasa asing ternama di Jember (Texas English Course). Kesempatan membanggakan itu tentu kusambut dengan baik. Setelah sekian lama, aku bisa kembali menunjukkan keterampilanku di bidang speaking.

            Adapun event ini, menjadi event kedua yang menuntut diriku untuk mampu mengkoordinir jalannya serangkaian agenda acara lengkap dengan seluruh improvisasi yang dibutuhkan dengan menggunakan bahasa Inggris. Tentu jauh berbeda dengan acara yang pernah aku emban sebelumnya —di mana aku masih diperbolehkan melakukan mixing atau permission to speak in bahasa— menjadi MC di kampus benar-benar mengharuskanku tetap tenang ketika terdapat perubahan mekanisme acara maupun hal-hal lain yang terjadi secara spontan ketika acara telah dimulai. Berbekal pengalaman dan seluruh evaluasi di acara TOEFL CLASS ini, aku kembali diberi tanggung jawab untuk menjadi MC dalam proker inti sekaligus annual event dari English Development Division ALSA LC UJ, yakni English Competition yang berjalan selama 3 hari secara hybrid. Dalam kesempatan ini, aku merasa mampu memandu jalannya acara secara jauh lebih tenang dan luwes, meski Dekan III juga hadir di sana. Kegiatanku sebagai Staff English Development juga mencakup membuat English Trivia di media sosial ALSA LC UJ, dan diwajibkan meramaikan English Day dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris selama satu hari penuh dengan sesama member ALSA di setiap hari Rabu serta Kamis. Sedangkan sebagai staff Muda Bidang Penelitian di FK2H (Forum Kajian Keilmuan Hukum), aku lebih aktif menulis Legal News dengan menyoal terkait aksi cuti massal oleh Hakim yang terjadi pada rentang bulan Oktober lalu.




            Memasuki bulan September pertengahan hingga Oktober, aku mengikuti kepanitiaan Dies Natalis FK2H dengan menjadi bagian dari Public Relation Division. Dalam dinamikanya, aku belajar banyak dan menjajal secara praktik berkaitan dengan kemampuan untuk bernegosiasi dengan owner maupun pimpinan dari beberapa brand terkait guna menarik simpati mereka untuk mengkontribusikan dana maupun barang dengan serangkaian feedback yang dirasa telah menawarkan kesepakatan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak. Selayaknya dunia sponsorship, tentu aku dan timku menghadapi berbagai karakter yang berbeda dari owner brand. Penolakan, diskusi yang ulet, hingga pada kemudahan untuk mencapai kesepakatan telah mewarnai kinerja dari tim Public Relation. Pada masa itu, rasanya tiada hal lain lagi yang jauh melegakan dibanding kemurahan hati owner brand untuk mengkontribusikan sejumlah fresh money mereka demi kesuksesan acara kami. Oh, jangan lupakan pula potongan harga atas jasa yang kami butuhkan itu, kiranya menjadi hal kedua yang melegakan. Satu momen yang paling membekas selama menjadi bagian dari tim bersama rekan-rekan Public Relation favoritku, adalah keberhasilan kami untuk melobby pihak photobooth agar bersedia memberikan harga khusus atas paket unlimited yang kami butuhkan. Sesuai prediksi pun dengan berbekal sense-ku sebagai sesama “Genzi”, kami merasa paket unlimited akan sangat berguna saat maupun pasca acara. Kami mengusahakan penuh agar peserta maupun panitia dapat mengabadikan momen manis mereka secara menyeluruh tanpa dihantui rasa takut atas pemberlakuan batasan strip foto. At the end, acara kami berjalan sukses dan menuai pujian dari Dekan, pun dengan Pembina FK2H.

            Beralih pada komitmen berikutnya, yakni warna-warni kegiatanku selama magang di Biro Pelayanan dan Bantuan Hukum (BPBH) FH UNEJ, yang berjalan dari bulan September 2024 hingga bulan Maret 2025 nanti. Selama masa magang itu, aku harus menuntaskan beberapa proker bersama anggota kelompok yang telah ditentukan. Mulai dari berjaga di BPBH dan melayani klien yang datang, menghadiri dan membersamai klien di persidangan, melakukan penyuluhan hukum di salah satu desa di Jember, hingga aktif mengedukasi pengetahuan hukum khalayak melalui infografis maupun video edukasi. Aku ingat betul bahwa dari seluruh perkara yang ada, kelompokku mendapat perkara perdata dengan kedatangan seorang klien yang mempertanyakan bagian waris atas harta bawaan dari mendiang ibu tirinya berupa tanah. Sepersekian menit mendalami kasus posisi, aku dan rekanku secara yakin menebak bahwa yang bersangkutan tidak memiliki hak sama sekali atas tanah itu, mengingat mendiang meninggalkan 2 anak kandung dari perkawinan sebelumnya. Sebagaimana yang telah kami pelajari di kelas —dalam waris— hubungan darah akan menyempitkan kesempatan dari pihak-pihak lain untuk mendapatkan harta warisan dari si pewaris. Dengan kata lain, ahli waris yang memiliki ikatan darah secara langsung dengan pewaris akan lebih diutamakan. Meski begitu, guna memberi kepastian hukum bagi klien, kami tetap menghadirkan Dosen Ahli di bidang Keperdataan (khususnya waris) guna membantu memberikan pengarahan pada klien. Adapun dalam program kerja menghadiri persidangan klien, kami lagi-lagi mendapat perkara perdata tentang waris berupa tanah. Dan hal yang paling mencengangkan, adalah bahwa persidangan berjalan amat fleksibel dan jauh dari bayang-bayang “kaku” sebaaimana yang awalnya tertanam dalam pikiranku. Yang kuingat —di sela-sela mengulik perkara— Hakim masih sempat melontarkan celetukan celetukan lucu guna mencairkan suasana, intinya persidangan berjalan dengan tidak sekaku itu. Sedangkan terkait proker penyuluhan hukum, kami membidik Desa Sumbersari dengan memilih topik penyuluhan tentang bantuan hukum gratis atau pro bono. Harapannya setelah penyuluhan itu berakhir, masyarakat —terkhusus bagi mereka kelompok rentan— dapat mulai menyadari dan bersedia menggunakan haknya untuk mendapat bantuan hukum ketika terjerat permasalahan hukum tertentu. Sebenarnya, masih banyak perjalanna lain yang ingin kuurai dalam essay ini, namun agaknya ikatan prosedural berupa batasan halaman memaksaku mengakhirinya di sini. Satu hal lagi yang ingin kubagikan, semester 3 terasa semakin lengkap saat ternyata aku berhasil menutupnya dengan IP 4.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib