Full width home advertisement

EVENT

Post Page Advertisement [Top]

 






            Memasuki dunia perkuliahan merupakan langkah besar dalam perjalanan hidup saya. Ketika masih duduk di bangku SMA, beban tanggung jawab sebagai seorang pelajar terasa lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan yang harus dipenuhi di jenjang universitas. Sebagai mahasiswa baru sekaligus rantau, saya menyadari bahwa kemandirian dan prinsip hidup yang kuat menjadi kunci utama untuk menjalani kehidupan di lingkungan akademik yang lebih dewasa. Perbedaan signifikan antara sistem pembelajaran di SMA dan universitas membuat saya harus beradaptasi dengan cepat. Di SMA, interaksi dengan teman sekelas cenderung lebih santai dan informal, sementara di universitas, kita harus bijak dalam memilih pertemanan karena suasana lebih beragam dan bebas. Meskipun demikian, saya tetap percaya terhadap diri saya dapat beradaptasi dengan baik untuk mengembangkan potensi diri, meraih prestasi, serta memberikan kontribusi positif bagi keluarga dan kampus.

            Perjalanan saya di dunia perkuliahan dimulai dengan kegiatan orientasi mahasiswa baru, di kampus saya disebut dengan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan). Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dan memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Pada hari pertama, acara dibuka di gedung multi purpose, tempat saya bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai daerah. Kami mendapatkan materi tentang fakultas, program studi, hingga kegiatan kemahasiswaan yang dapat diikuti. Sesi motivasi diri oleh Dr. Fachruddin Faiz, seorang filsuf ternama di Indonesia, memberikan inspirasi dan semangat baru bagi kami. Hari kedua diisi dengan penjelasan sistem perkuliahan, seperti pengisian KRS, kontrak kuliah, dan budaya akademik. Sesi diskusi kelompok juga dilakukan untuk melatih kerja sama tim. Hari terakhir ditutup dengan perkenalan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), di mana setiap fakultas menampilkan yel-yel dan koreografi yang unik. Meskipun melelahkan, acara ini sangat menyenangkan dan memperluas relasi saya.

            Setelah PBAK, kami mengikuti sosialisasi pembelajaran tingkat fakultas. Di sini, kami diberi materi tentang kurikulum, mata kuliah, sistem perkuliahan, serta program seperti Merdeka Belajar. Kami juga diajarkan cara berdiskusi dan presentasi, serta diberikan materi soft skill, motivasi diri, etika di kampus, dan moderasi beragama. Acara terakhir yang saya ikuti adalah ospek jurusan yang diadakan oleh HMPS Informatika. Ospek ini berlangsung selama satu bulan dengan pertemuan sekali seminggu, dan minggu terakhir diisi dengan acara makrab selama dua hari satu malam. Meskipun melelahkan, semua rangkaian acara ini memberikan kesan mendalam dan membantu saya mempersiapkan mental untuk menghadapi tantangan perkuliahan.

            Memasuki dunia perkuliahan yang sesungguhnya, saya menyadari bahwa metode pembelajaran di universitas berbeda dengan SMA. Dosen hanya memberikan dasar-dasar materi, sementara mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan pemahaman melalui diskusi, presentasi, dan tugas mandiri. Fleksibilitas jadwal kuliah menuntut kedisiplinan tinggi agar tidak terlena dalam zona nyaman. Untuk memanfaatkan waktu luang dengan baik, saya mengambil pelatihan soft skill dan hard skill, seperti program koding bersertifikat di Dicoding dan mengembangkan skill bahasa Inggris dengan mengikuti UKM SPBA (Studi dan Pengembangan Bahasa Asing). Saya juga bergabung dengan FKIST (Forum Kajian Islam dan Sains Teknologi) untuk mengasah kemampuan riset dan kepenulisan. 

            Selain itu, selama satu semester ini saya aktif mengikuti seminar, pelatihan, dan lomba kepenulisan serta pemrograman baik yang ada di dalam kampus ataupun luar kampus. Meskipun pernah gagal lolos ke babak berikutnya dalam beberapa lomba, hal tersebut tidak mematahkan semangat saya. Saya terus belajar dari kesalahan dan berusaha meningkatkan kemampuan. Pengalaman berkesan saya ketika mengikuti workshop seputar IoT yang diselenggarakan oleh DemaFST, Komunita Yogyakarta, dan Kemenkeu. Disitu kelompok saya mendapatkan hadiah sebagai persentasi terunik. Hal yang tidak pernah saya duga tetapi membuat saya merasa senang karena tim kami sudah berusaha yang terbaik. Sedangkan selama saya mengikuti proses pembelajaran di kampus banyak melibatkan metode student centered learning(peran aktif mahasiswa) seperti diskusi kelompok, tugas individu, presentasi kelompok, makalah, dan projek. Disaat pengalaman pertama saya menghadapi UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester), saya percaya dengan kemampuan diri saya dan terus belajar sungguh-sungguh dan mengulas materi yang sudah pernah saya pelajari agar mendapatkan nilai terbaik. Selain itu, saya berusaha aktif berdiskusi di kelas, memaksimalkan sesi presentasi, melengkapi tugas yang ada, dan berusaha hadir selama perkuliahan. Alhamdulillah, hasil kerja keras saya terbayar dengan IPK 3,8 di semester pertama. Prestasi ini memotivasi saya untuk terus mempertahankan performa akademik di semester berikutnya. 

            Di samping aktivitas akademik, saya juga berusaha membangun hubungan sosial yang baik dengan teman-teman baru. Bergabung dengan komunitas mahasiswa seperti SPBA dan FKIST membantu saya mengembangkan minat dan bakat, serta memperluas relasi. Saya sadar bahawa aktivitas ekstrakurikuler/UKM memberikan manfaat besar, seperti pengembangan soft skill, peningkatan kemampuan berkomunikasi, dan peluang untuk berkontribusi dalam kepanitiaan acara kampus. Dengan begitu, saya dapat belajar pentingnya menjaga keseimbangan antara tugas kuliah dan kegiatan sosial, serta pentingnya manajemen waktu untuk memaksimalkan produktivitas.

            Semester pertama tidak lepas dari banyak tantangan. Mata kuliah yang cukup rumit untuk dipahami, tekanan dari lingkungan pertemanan yang terkadang kurang mendukung, dan bertemu dengan dosen pengajar yang kurang baik mengajarnya, sering kali membuat saya merasa capek dan motivasi belajar naik turun. Selain itu, adaptasi dengan budaya kampus dan perubahan gaya hidup juga menjadi kendala tersendiri. Tetapi hal itu dapat saya atasi dengan mencari dukungan dari teman yang nyaman untuk saya dan selalu bercerita kepada orangtua. Seiring berjalannya waktu, saya menemukan strategi belajar yang lebih efektif dan tepat, seperti membuat kelompok belajar, berkonsultasi dengan dosen, dan memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti pelatihan tambahan. Menurut saya kunci utama agar dapat melalui tantangan tersebut adalah memiliki manajemen waktu yang baik dan disiplin terhadap diri sendiri.

            Secara keseluruhan, semester pertama adalah tahap awal yang penuh tantangan, namun juga sebagai modal awal untuk saya tumbuh menjadi lebih baik. Dari semua itu, saya belajar banyak hal, baik secara akademik maupun pribadi. Pola pikir saya berubah menjadi lebih dewasa, dan membuat saya lebih disiplin dalam mengatur waktu. Harapan saya di semester berikutnya adalah dapat lebih konsisten dalam belajar, meningkatkan keterlibatan dalam kegiatan kampus dalam hal prestasi, dan mempersiapkan diri untuk karier di masa depan. Saya percaya bahwa dengan semangat dan konsistensi dalam belajar, perjalanan perkuliahan akan membawa saya menuju kesuksesan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib