Memasuki semester dua, saya semakin memahami bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal menuntaskan kewajiban akademik, tetapi juga tentang bagaimana mengolah pengalaman menjadi pelajaran hidup yang berharga. Salah satu pengalaman yang begitu berkesan bagi saya adalah ketika berkesempatan melakukan wawancara dengan pelaku UMKM di Pondok Pesantren Nuris, lalu menuangkannya ke dalam sebuah jurnal berbahasa Indonesia. Wawancara tersebut membuka mata saya bahwa usaha kecil yang dijalankan di lingkungan pesantren bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga sarana pendidikan. Para santri diajak untuk berlatih mandiri, mengelola usaha, sekaligus belajar nilai-nilai kejujuran dan kerja keras. Narasumber yang saya temui bercerita bagaimana mereka memulai usaha dari keterbatasan, namun dengan tekad kuat akhirnya mampu menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari cerita itu, saya belajar bahwa semangat dan konsistensi jauh lebih penting daripada besarnya modal awal.
Pengalaman tersebut saya tuangkan dalam bentuk jurnal Bahasa Indonesia sebagai bagian dari tugas akademik. Menulis jurnal bukan sekadar kewajiban, tetapi juga refleksi pribadi. Saya berusaha menyusun kata demi kata agar tidak hanya menggambarkan hasil wawancara, tetapi juga menyampaikan pesan inspiratif di baliknya. Proses ini membuat saya semakin yakin bahwa menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan pengalaman sekaligus menyebarkan manfaat.
Bagi saya, beasiswa semester dua memiliki arti yang sangat penting. Bukan hanya sebagai bantuan finansial untuk meringankan beban keluarga, tetapi juga sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Dengan adanya beasiswa, saya bisa lebih fokus belajar, lebih giat berorganisasi, dan terus berusaha mengembangkan keterampilan menulis serta kemampuan komunikasi. Pengalaman wawancara dan membuat jurnal menjadi bukti bahwa saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga berusaha menghubungkannya dengan praktik nyata di lapangan. Semester dua saya jadikan sebagai tonggak untuk membangun fondasi yang lebih kuat. Saya ingin terus berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik, serta menjadikan setiap pengalaman sebagai pijakan menuju cita-cita. Sama seperti UMKM di Pondok Pesantren Nuris yang berkembang dari hal sederhana, saya percaya bahwa langkah kecil yang konsisten akan membawa saya pada keberhasilan di masa depan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar