Entah mengapa semester
tiga saya rasa cepat sekali berlalu. Di semester ini bisa dikatakan setiap
jurusan di fakultas kami sudah mulai menjurus ke materi sesuai bidang masing –
masing. Kalau di biologi sendiri sudah tidak dijumpai lagi mata kuliah kalkulus, fisika, dan
sejenisnya. Tapi kalau kimia tentunya masih dijumpai, yaitu kimia organik
sebagai matkul prasyarat untuk mengambil biokimia di semester berikutnya.
Ada mata kuliah baru
yang lebih spesifik yang kami pelajari, beberapa di antaranya yaitu ekologi
umum, genetika, mikrobiologi, anatomi perbandingan vertebrata (APV), dan
anatomi tumbuhan. Sudah jelas sekali berbeda dari semester sebelumnya yang
masih mempelajari struktur morfologinya, di semester ini kami mempelajari lebih
dalam, yaitu mengenai struktur anatominya.
Saya akui semester ini
lebih berat dari semester – semester sebelumnya. Meski sudah tidak dijumpai
kalkulus dan fisika, bukan berarti tidak bertemu hitung menghitung sama sekali.
Di praktikum ekologi umum, setiap hari kami makan
rumus dan analisis statistika yang bagi saya sangatlah ribet. Sampai saya rasa
matkul ini menjadi momok bagi saya selama duduk di semester tiga. Bagaimana
tidak? Praktikumnya yang sangat sengsara,
hanya satu sks, dan dari pembicaraan kating, dosennya pun sedikit susah
memberi nilai. Di praktikum ini, kami sudah mengalami menceburkan diri sejauh
10 meter dari bibir pantai Kenjeran yang panasnya nggak ketulungan dan
berlumpur. Sudah bisa membayangkan lah ya, bagaimana rupa kami setelah mentas.
Karena praktikum ini pula, kami dapat merasakan ‘njebur’ di danau unair depan
rektorat untuk identifikasi plankton, tak hanya itu, kami juga njebur di air
mancur FST untuk mengambil batu – batu di dasar kolam lalu disikat untuk diambil
substratnya. Nyikat batu loh. Batu.
Kira – kira begitulah kesengsaraan
yang pernah saya alami. Kalau disebutkan semuanya akan panjang kali lebar kali
tinggi.
Selebihnya, untuk mata
kuliah lain saya baik – baik saja. Meski demikian, saya tidak serta merta anti
dengan matkul ekoum praktikum. “Yaiyalah,
yakali anti. Mau dapet D?” ketidaktertarikan saya terhadap ekoum prak harus
saya lawan. Mengerjakan laporan dengan serius, sungguh – sungguh, dan
memaksimalkan pretest. Masalah nilai keluar apa urusan belakangan. Let’s do the
best, God do the rest. Bener nggak?
Masih sama di semester
sebelumnya, di semester tiga ini saya masih mengaktifkan diri dalam kepanitiaan
proker – proker hima (himpunan mahasiswa). Yang membedakan mungkin jumlah
kepanitiaan yang saya ikuti lebih banyak dari sebelumnya. Semester ini memang membawa
hawa positif bagi saya. Saya sudah tidak terlalu “kuliah-pulang-kuliah-pulang
lanjut tidur di kosan” seperti sebelumnya. Karena juga keikutsertaan di
beberapa kepanitiaan mengharuskan saya harus stay di kampus, entah untuk rapat, mengerjakan laporan, jajan, atau
bergosip dengan teman – teman. Pokoknya intensitas waktu di kampus lebih banyak
gitu.
Lanjutan dari tulisan
sebelumnya, dimana saya diterima menjadi mentor PBA (…. Baca Alquran, P nya apa
ya lupa) untuk maba. Intinya sih membimbing adik – adik maba dalam membaca
alquran selama setengah semester. Dengan ini, saya jadi lebih banyak kenalan
adik – adik maba selain dengan menjadi panitia ospek jurusan. Positifnya,
menambah relasi dan koneksi. Bebicara tentang kepanitiaan apa yang saya ikuti
di semester ini seperti, panitia ospek jurusan (Genetics 2018) sebagai perkap.
Yoi perkap. Strong kan gue, cewek sendiri
lagi, panitia SCIA sebagai KSK, SCIA tuh acaranya sosialisasi ke SMA – SMA
di Surabaya, panitia acara olahraga jurusan sebagai medis, panitia pemira
jurusan sebagai KSK, pemira itu pesta politiknya fakultas. Jadi acaranya ya
pemilihan kabem, wakabem, kahima, BLM, dan sejenisnya. Saya juga masih aktif
volunteeran di Garda Pangan. Itu tuh komunitas penyelamat makanan di Surabaya.
Kegiatan terakhir, saya mengikuti food
rescue di salah satu kampung pemulung bersama – sama dengan relawan
lainnya.
Kemajuan lain di
semester ini, saya lebih sering berpartipasi dalam acara proker – proker
jurusan, maksudnya selain menjadi panitia, saya juga ikut meramaikan proker
dengan menjadi peserta. Kalau semester kemarin – kemarin, mungkin saya agak
apatis dan kurang tanggap proker. Ikut dalam proker itu seru, mempererat
kedekatan satu angkatan. Kalau terlalu apatis, kumpul angkatan enggak, jadi
panitia enggak, jadi peserta juga enggak. Memangnya mau wisudaan sendirian?
Sudah kebiasaan bagi
saya dalam setiap semester atau dalam enam bulan saya selalu membuat semacam wish list tentang apa – apa saja yang
ingin saya capai selama semester itu. Saya sebisa mungkin mencatat secara
detail, tidak hanya garis besarnya. I
prefer write get IPK 3,58 than write get above 3,0. Jadi saya juga mencatat
satu persatu matkul dengan nilai yang saya harapkan. Semisal, matkul genetika
susah nih, saya tulis B saja. Begitupun dengan matkul – matkul yang lain. Di
semester kemarin, banyak dari wish list
saya yang tercentang alias tercapai, namun sepertinya tidak di semester ini.
Mengetahui semester ini yang berat, saya sadar diri harus meningkatkan
kemesraan saya dengan buku. Meski beberapa yang saya peroleh masih belum nyampek dengan apa yang sudah saya tulis
di wish list, tapi saya sadar dan
meyakinkan diri saya kalau itu hanya masalah angka, selebihnya tentang nilai.
Saya sudah berusaha lebih baik dan saya bersyukur dengan yang saya peroleh..
Ketidaksesuaian antara
hasil dan harapan ini, menjadi dongkrak yang lebih kuat bagi diri saya untuk
mencapai apa saya inginkan. Bukankah bola basket yang jatuh dengan keras dapat
melambung lebih tinggi? Baiklah, saya rasa sekian kisah saya di semester tiga ini yang begitu banyak memberi
pelajaran. Saya hendak membuat wish list
lagi di semseter 4. Thankyou semester 3, welcome semester 4!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar