40 Hari Di Tanah Sidomulyo
Oleh : Lisa Dwi Agustina
Kali ini aku akan berbagi kisah indah sekaligus mengesankan tentang
sebuah perjalanan yang tak begitu panjang, namun yah banyak sekali memberikan
pengalaman, pembelajaran, dan cerita unik untukku. Tahun ini aku melakukan
suatu kegiatan yang kata orang sangat dinantikan oleh para mahasiswa, yeah
kuliah kerja nyata atau sebut ringan saja KKN. Sebelumnya belum pernah
terfikirkan aku akan ditempatkan dimana, apakah tempatnya enak? Tempatnya aman?
Indah? Jauh? Dan banyak sekali difikiranku. And finally, pengumuman mendarat
dengan keputusan bahwa kelompokku akan ditempatkan disalah satu desa di kota
Jember. Namanya Desa Sidomulyo. Desa Sidomulyo merupakan desa di bawah kaki Gunung
Raung, menyiratkan suasana dan keindahan yang memanjakan mata, berdiri gagah,
membentang dikelilingi awan nan mempesona. Hawa dingin yang acap kali menusuk
tulang, air yang sama seperti lelehan es sampai-sampai aku berfikir, apabila
aku tinggal disini apakah aku akan mandi sebagaimana mestinya, haha mungkin
tidak.
Desa ini juga memiliki beberapa wilayah yang masih memiliki suasana
kental zaman Belanda, mulai dari rumah, dan berbagai peninggalan bangunan
produksi yang masih dengan baik dilestarikan, yang berfikir tak akan dibiarkan
lekang dimakan waktu. Desa Sidomulyo adalah desa yang sangat maju, kenapa? banyak
sekali prestasi yang telah diraih oleh desa sidomulyo dalam tingkat kabupaten
maupun provinsi, dan juga ada banyak potensi yang dimiliki desa ini, seperti
fosil akar, rumah batik, raja domba, sendang tirto, industri kopi, dan masih
banyak lagi.
Kelompokku mendapatkan metode mengenai
pengembangan aset suatu wilayah, dan kebetulan sekali salah satu komoditas
terbesar desa ini adalah Kopi. Mayoritas mata
pencaharian warga Desa Sidomulyo adalah menjadi petani kopi, pekebun, dan buruh
tani. Mata pencaharian ini merupakan bagian dari hubungan sebab akibat dari
kondisi alam, dan lokasi kawasan yang berada di lereng kaki Gunung Raung
menjadikan hasil alam kawasan ini sangat potensial. Sehingga hal ini menjadi
fokus utama untuk proker kelompokku. Kopi sendiri memiliki rentang waktu 1
tahun dalam penanamannya, dan kebetulan bulan dimana aku dan teman-temanku melakukan
kuliah kerja nyata yaitu bertepatan dengan panen raya kopi di Desa Sidomulyo. Kopi
Robusta merupakan jenis kopi yang paling banyak dihasilkan di desa ini.
Ditempat produksi kopi sendiri pengunjung bisa belajar bagaimana cara produksi
kopi mulai dari pengeringan, penggilingan, packaging, dan lain sebaginya. Pemasarannya
pun sudah sampai luar kota bahkan luar negeri. Pengembangan aset dari kopi
sendiri yaitu dengan menciptakan inovasi baru mengenai makanan ringan yang
dipadukan dengan bahan kopi menjadi cemilan stik manis, kuping gajah, dan
cookies yang akan memberikan dan mengenalkan rasa cemilan kopi yang lezat. Sehingga
hal ini mendapatkan apresiasi yang baik sekali dari pemerintah desa karena
dengan adanya inovasi makanan ringan dari kopi akan menghasilkan camilan khas
desa Sidomulyo yang kaya akan sumber daya alam kopinya.
Selain
itu, kami juga mengembangkan aset dalam industri batik di Sidomulyo mengenai
packaging batik. Industri rumah batik sendiri dari dulu belum menemui
konsistensi mengenai desain atau packaging batik seperti apa yang pas
digunakan, dan itulah yang masih menjadi masalah atau sekaligus keinginan dari
pemiliki batik sendiri. Sehingga kami menjadikan itu sebagai program kerja dan
berusaha untuk mendesain sesuai keinginan dari batik sendiri. Disamping itu,
selain melakukan pendesignan terhadap packaging batik, kita juga belajar
bagaimana cara membantik, mulai dari mendesign gambar, lalu mencanting, dan
sampai pada tahap mewarnai.
Selain
melakukan kegiatan proker, kita juga melakukan kegiatan sampingan sosial yang
mana dimaksudkan agar kita lebih dekat dengan masyarakat, karena kita
berdampingan dengan mereka sehingga kita harus menjalin hubungan yang baik
dengan mereka, bukankah menjalin silaturahmi adalah hal yang utama yang harus
kita lakukan ketika kita berada di tempat orang lain.
Kegiatan
yang kita lakukan ialah, mengikuti muslimatan. Muslimatan terdiri dari
sekumpulan ibu-ibu yang melakukan kegiatan yang dilakukan untuk mempererat
hubungan silaturahmi terhadap satu sama lain, dan kegiatan tersebut dilakukan
secara bergilir sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Masih ada banyak lagi
yang kita lakukan seperti mengunjungi acara shalawatan di desa, sholad idul
adha, pawai obor 1 muharram, mengajar mengaji, dan masih banyak lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar