Saya Mita Indriani, kembali dalam meneruskan cerita
kuliah saya yang sudah menginjak semester 5. Terdapat perasaan senang dan
bangga dalam setiap proses menulis cerita perkuiahan ini, senang karena
berhasil melewati setiap tahap pada semester sebelumnya dan bangga karena bisa
sampai dititik ini meskipun perjalanan yang dilalui masih panjang dan tentunya
kedepan akan semakin berat. Namun, dalam
cerita kali ini akan sangat berbeda dengan cerita-cerita yang saya tulis
sebelumnya. Mengapa demikian ? karena pada semester ini masa perkuliahan saya
sudah full luring atau kuliah dilaksanakan di kelas pada umumnya. Tidak ada
lagi zoom dan online, melainkan tatap muka langsung dan bertemu dengan teman-teman jauh yang sebelumnya hanya
berinteraksi via media sosial.
Masa pandemi yang mengharuskan kuliah online akhirnya
selesai dan segala aktivitas sudah mulai normal kembali. Begitu pun proses
perkuliahan ku sudah dilaksanakan diruang kelas Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik Universitas Jember. Mata kuliah pada semester 5 ini ada delapan mata
kuliah dengan jumlah total sebanyak 23 sks, yang terdiri dari Pertanian Modern dan
Agroindustri, Sosiologi Korupsi, Sosiologi Politik, Advokasi Sosial, Manajemen
Resiko Bencana, Media Seni dan Teknologi, Praktik Advokasi Sosial, dan Sistem
Minapolitan (Masyarakat Kota Pantai).
Pada awal masuk semester 5 segala persiapan dan keperluan
saya persiapkan sebelum berangkat ke Jember karena sudah pasti akan menetap
lama. Saya menempati kamar kos Putri Nafezaa yang sudah saya dapatkan sejak
saya akan melakukan praktikum ke Lumajang yang sudah saya jelaskan pada cerita
kuliah semester 4 yang lalu. Saya sengaja tetap memilih kos tersebut karena
saya rasa sudah cukup nyaman, fasilitas yang tersedia cukup baik, pemilik kos
sangat ramah, selain itu juga sudah sulit untuk mencari kos baru mengingat
semua mahasiswa sudah aktif kuliah membuat hapr semua kos penuh.
Banyak pengalaman dan tantangan baru yang harus dihadapi
pada semester ini. Mulai dari permasalahan mental jauh dari orang tua juga
harus menyesuaikan diri di tempat baru. Tentunya di awal sebagai anak kos
sangat tidak betah, sehingga diawal semester 5 ini saya sangat sering pulang.
Meskipun libur pun hanya 1 hari tetapi selalu menyempatkan pulang ke
Banyuwangi. Pada saat itu tidak ada rasa
capek dan tidak ada hal paling menyenangkan selain pulang. Teman saya pun
sampai menegur kenapa serig pulang dan tidak betah di Jember ya memang sangat
tidak menyenangkan diawal semester ini harus banyak menyesuaikan. Faktor lain
yang menyebabkan tidak betah di Jember adalah sebagian besar warung makanan
yang rasanya kurang cocok. Awal semester
untuk makan full beli, namun karena dirasa pengeluaran cukup banyak dan keuangan
orang tua tidak stabil lama-lama mulai masak sendiri namun saat itu belum
memiliki rise cooker, orang tua membekali ku dendeng yang bisa tahan lama
sehingga akupun tiap hari hanya membeli nasi putih saja. Hingga lama-lama saya
cukup malu dengan semua pemilik warung yang mulai hafal dengan saya karena
setiap hari hanya membeli nasi saja. Hal itu terjadi cukup lama hingga pada
akhirnya kakak saya yang berbaik hati membelikan saya rise cooker ukuran
sedang. Setelah berjalan hingga hampir setengah semester akhirnya capek juga
sering bolak-balik Banyuwangi-Jember. Saya
mulai jarang pulang dan menjadwal untuk pulang setiap weekend 2 minggu sekali.
Memasuki minggu ke-8 adalah waktunya UTS, seperti biasa
di prodi ini tidak ada ujian tetapi diberikan tugas sebagai pengganti ujian.
Bobot tugas tergantung pada lamanya deadline tugas, semakin lama deadline maka
semakin sulit tugasnya. Selesai UTS memasuki minggu ke 10 dan beberapa mata
kuliah memberikan tugas turun lapang untuk mewawancarai beberapa narasumber
yang sesuai. Pada mata kuliah Advokasi Sosial harus mewawancarai beberapa
lembaga maupun organisasi yang pernah melakukan pengadvokasian kepada
masyarakat. Pada mata kuliah Manajemen Resiko Bencana melakukan simulasi
ketahanan bencana pada siswa siswi baik TK, SD, maupun SMP. Pada mata kuliah
Sosiologi Korupsi diberi tugas untuk melakukan popdcast, pada kelompokku mewawancarai Agus Hendro Setiawan, S.Sos yang
merupakan seorang tenaga ahli DPR RI Bapak Charles Mekyansyah. Mata kuliah
Sosiologi Politik melakukan wawancara pada seseorang yang pernah ikut serta
dalam kegiatan politik. Dan pada mata kuliah Praktik Advokasi Sosial adalah
mata kuliah yang paling berat disemester ini karena wawancara dilakukan
dibeberapa narasumber dan berlangsung beberapa kali, setiap minggu mengharuskan
upload artikel pada media online dan pada tugas akhir menulis jurnal berdasar
pada 4 artikel yang sudah di upload pada media online diatas. Tugas pada mata
kuliah kuliah Praktik Advokasi Sosial ini mengharuskan hampir setiap hari
melaksanakan diskusi kelompok hingga kami pun sering berada di kampus hingga
larus malam. Meskipun tugas ini berkelompok kami membagi tugas ini kepada tiap
individu untuk menulis artikel yang harus di upload tiap minggunya. Pada mata
kuliah ini kami bertugas untuk mengadvokasi temen-temen penyandang difabel,
untuk membantu menyampaikan keluh kesah mereka terhadap aksesbilitas yang
tersedia kepada pemerintah. Banyak aksesbilitas yang keberadaannya dirasa
kurang ramah bagi penyandang difabel, sehingga peran kamu membantu nyampaikan
kritik dan harapan mereka dalam bentuk artikel yang kami buat.
Beberapa tugas diatas merupakan pengganti Ujian Akhir
Semester, sehingga diberikan sejak pertemuan ke-10 mengingat tugas yang perlu
perencanaan dan waktu yang cukup. Pada mata kuliah yang tidak disebutkan pun
sama, diberikan tugas sebagai pengganti Ujian Akhir Semester. Dan setelah semua
tugas terselesaikan menandakan juga bahwa semester ini juga telah usai.
Sekian dari cerita singkat pada perjalanan kuliah saya
disemester 5 ini, maaf jika tidak banyak yang dapat saya sampaikan. Harapan
saya untuk kedepannya tetap sama, semoga dapat melewati semester depan dengan
lancar serta dapat lulus cepat amiiin.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar