Semester tiga dimulai bukan dengan santai, tetapi dengan langkah tegap dan suara
tegas. Sebagai panitia PKKM, saya bukan lagi mahasiswa baru yang diperkenalkan pada dunia
kampus, tetapi justru menjadi bagian dari mereka yang mengawal mahasiswa baru melewati
gerbang awal perkuliahan. Tidak hanya itu, sebagai pendamping pleton, saya ikut merasakan
disiplin, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan yang membentuk mental mahasiswa
baru. Tanpa disadari, pengalaman ini tidak hanya melatih mereka, tetapi juga menempa saya
menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap menghadapi tantangan semester ini.
Salah satu pencapaian yang saya banggakan di semester ini adalah keterlibatan dalam
Pengabdian Masyarakat di Secang. Program ini bukan sekadar pengalaman lapangan, tetapi
juga bentuk nyata kontribusi kepada masyarakat. Seharusnya, pengabdian ini mendapatkan
rekognisi akademik, tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Saya dan tim dihadapkan pada
kendala administratif pengabdian yang kami lakukan dianggap tidak relevan dengan mata
kuliah yang seharusnya mendapatkan pengakuan. Situasi ini cukup mengecewakan, mengingat
waktu, tenaga, dan komitmen yang sudah diberikan. Namun, dari sini saya belajar bahwa tidak
semua perjuangan mendapat apresiasi langsung, tetapi pengalaman dan pembelajaran yang
diperoleh tetap menjadi bekal berharga untuk masa depan.
Di tengah kekecewaan soal rekognisi pengabdian masyarakat, saya tidak punya banyak
waktu untuk berlarut dalam rasa kesal. Tanggung jawab di organisasi terus berjalan, dan saya
harus membagi fokus antara dua peran besar. Di BEM, saya tetap menjalankan tugas sebagai
Staf Menteri Dalam Negeri, memastikan koordinasi dengan organisasi mahasiswa lainnya
berjalan lancar. Sementara itu, di HMJBI, saya memegang peran sebagai Sekretaris 2, yang
menuntut ketelitian dalam administrasi serta kesiapan dalam setiap rapat dan program kerja.
Mengatur waktu di antara dua organisasi ini bukan hal yang mudah, tetapi saya mulai
memahami bahwa manajemen waktu dan prioritas adalah kunci utama bertahan di semester
ini.
Semester ini ditutup dengan berbagai dinamika yang penuh tantangan. Salah satu yang
paling bikin frustrasi adalah proyek Kasir Pintar yang ternyata rancu, tidak ada kejelasan yang
pasti, membuat saya dan tim kebingungan soal arahnya. Di saat bersamaan, saya juga harus
mengurus masalah presensi. Padahal saya hadir dalam perkuliahan, tetapi beberapa mata kuliah
mencatat kehadiran saya kurang dari 85%. Akibatnya, minggu tenang yang seharusnya bisa
saya manfaatkan untuk persiapan ujian malah saya habiskan untuk menyelesaikan administrasi
presensi sebagai syarat ujian. Dan sebagai penutup yang cukup pahit, saya harus menerima
nilai C di salah satu mata kuliah, bukan karena kurang memahami materi, tetapi karena jaringan
error saat ujian, sehingga saya gagal menginput jawaban secara keseluruhan. Lebih
menyakitkan lagi, tidak ada opsi perbaikan nilai. Ini adalah pukulan telak di akhir semester,
tetapi juga pengingat bahwa tidak semua hal bisa dikontrol kadang, kita hanya bisa menerima
dan belajar dari setiap pengalaman.
Dengan segala drama, tantangan, dan kejutan di semester 3, saya akhirnya berhasil
melewatinya , walaupun dengan sisa-sisa kewarasan yang nyaris habis. Tapi apa pun itu, saya
tetap berdiri, tetap belajar, dan tetap bertahan. Semester 4? Saya datang. Dan kali ini, saya akan
menjalaninya dengan lebih siap, lebih bijak, dan tentu saja, dengan tetap menjaga kewarasan
saya sebaik mungkin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar