Full width home advertisement

EVENT

Post Page Advertisement [Top]

 






            Semester tiga dimulai bukan dengan santai, tetapi dengan langkah tegap dan suara tegas. Sebagai panitia PKKM, saya bukan lagi mahasiswa baru yang diperkenalkan pada dunia kampus, tetapi justru menjadi bagian dari mereka yang mengawal mahasiswa baru melewati gerbang awal perkuliahan. Tidak hanya itu, sebagai pendamping pleton, saya ikut merasakan disiplin, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan yang membentuk mental mahasiswa baru. Tanpa disadari, pengalaman ini tidak hanya melatih mereka, tetapi juga menempa saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap menghadapi tantangan semester ini.

            Salah satu pencapaian yang saya banggakan di semester ini adalah keterlibatan dalam Pengabdian Masyarakat di Secang. Program ini bukan sekadar pengalaman lapangan, tetapi juga bentuk nyata kontribusi kepada masyarakat. Seharusnya, pengabdian ini mendapatkan rekognisi akademik, tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Saya dan tim dihadapkan pada kendala administratif pengabdian yang kami lakukan dianggap tidak relevan dengan mata kuliah yang seharusnya mendapatkan pengakuan. Situasi ini cukup mengecewakan, mengingat waktu, tenaga, dan komitmen yang sudah diberikan. Namun, dari sini saya belajar bahwa tidak semua perjuangan mendapat apresiasi langsung, tetapi pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh tetap menjadi bekal berharga untuk masa depan.

            Di tengah kekecewaan soal rekognisi pengabdian masyarakat, saya tidak punya banyak waktu untuk berlarut dalam rasa kesal. Tanggung jawab di organisasi terus berjalan, dan saya harus membagi fokus antara dua peran besar. Di BEM, saya tetap menjalankan tugas sebagai Staf Menteri Dalam Negeri, memastikan koordinasi dengan organisasi mahasiswa lainnya berjalan lancar. Sementara itu, di HMJBI, saya memegang peran sebagai Sekretaris 2, yang menuntut ketelitian dalam administrasi serta kesiapan dalam setiap rapat dan program kerja. Mengatur waktu di antara dua organisasi ini bukan hal yang mudah, tetapi saya mulai memahami bahwa manajemen waktu dan prioritas adalah kunci utama bertahan di semester ini.




            Semester ini ditutup dengan berbagai dinamika yang penuh tantangan. Salah satu yang paling bikin frustrasi adalah proyek Kasir Pintar yang ternyata rancu, tidak ada kejelasan yang pasti, membuat saya dan tim kebingungan soal arahnya. Di saat bersamaan, saya juga harus mengurus masalah presensi. Padahal saya hadir dalam perkuliahan, tetapi beberapa mata kuliah mencatat kehadiran saya kurang dari 85%. Akibatnya, minggu tenang yang seharusnya bisa saya manfaatkan untuk persiapan ujian malah saya habiskan untuk menyelesaikan administrasi presensi sebagai syarat ujian. Dan sebagai penutup yang cukup pahit, saya harus menerima nilai C di salah satu mata kuliah, bukan karena kurang memahami materi, tetapi karena jaringan error saat ujian, sehingga saya gagal menginput jawaban secara keseluruhan. Lebih menyakitkan lagi, tidak ada opsi perbaikan nilai. Ini adalah pukulan telak di akhir semester, tetapi juga pengingat bahwa tidak semua hal bisa dikontrol kadang, kita hanya bisa menerima dan belajar dari setiap pengalaman.

            Dengan segala drama, tantangan, dan kejutan di semester 3, saya akhirnya berhasil melewatinya , walaupun dengan sisa-sisa kewarasan yang nyaris habis. Tapi apa pun itu, saya tetap berdiri, tetap belajar, dan tetap bertahan. Semester 4? Saya datang. Dan kali ini, saya akan menjalaninya dengan lebih siap, lebih bijak, dan tentu saja, dengan tetap menjaga kewarasan saya sebaik mungkin.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib