Hai…, perkenalkan saya adalah seorang mahasiswa semester 3 yang sedang menapaki perjalanan panjang di dunia perkuliahan. Perjalanan ibarat mendaki gunung tanpa arahan peta yang jelas, setiap semester adalah tanjakan baru yang tidak hanya sekedar ruang kelas, tugas, nilai akademik, tetapi juga proses mengenal dan membentuk diri sendiri dimana setiap kegagalan adalah batu terjal, dan setiap keberhasilan menjadi pemandangan yang memberi alasan untuk terus melangkah.
Putri Ayu Octaviani, sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya berisikan harapan dan doa yang indah. Seringkali orang memanggilku dengan sebutan “putri”. Namun, semuanya bermula dari sebuah panggilan nama yang kini ku ubah”octa”. Perubahan itu mungkin terdengar sederhana, namun bagi saya ia menyimpan makna yang dalam dan sebuah simbol harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Perubahan panggilan nama menjadi “octa” seolah menjadi pengingat bahwa saya sedang berada dalam proses pembaruan diri. Saya belajar menerima kekurangan, sekaligus terus mengasah potensi yang dimiliki.
Di lingkungan kampus, nama bukan sekadar identitas, melainkan cerminan awal bagaimana seseorang dikenali. Dengan panggilan baru tersebut, saya membawa niat untuk memperbaiki sikap, cara berpikir, serta tanggung jawab sebagai mahasiswa. Setiap langkah di perkuliahan menjadi ruang belajar, tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara emosional dan sosial. Dari rasa canggung dan bingung di awal semester hingga perlahan menemukan ritme dan arah tujuan yang jelas.
Perkuliahan tidak hanya terjadi di dalam ruang kelas. Diskusi dengan teman, kerja kelompok, serta interaksi dengan dosen menjadi bagian penting dalam membentuk pola pikir dan sikap saya. Melalui proses tersebut, saya belajar tentang kerja sama, toleransi terhadap perbedaan pendapat, serta pentingnya tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas bersama. Memasuki semester 3, semua terasa semakin meningkat. Beban akademik materi perkuliahan Pendidikan Geografi mengenai pemahaman konsep, kemampuan analisis, keterampilan berfikir kritis, tugas-tugas baik individu maupun kelompok, laporan praktikum, yang tidak lagi sekedar menghafal atau bahkan mengerjakan, melainkan menuntut kepekaan terhadap permasalahan wilayah, sosial, dan lingkungan yang terjadi di sekitar.
Semester 3 ini, saya merasa memiliki 2 kepribadian dimana saya dituntut untuk kuat tetapi saya lemah. Rintangan datang secara bersamaan membuat saya merasa berat hati dalam menjalani perkuliahan. Malam dimana biasa digunakan untuk beristirahat, tetapi bagi saya malam adalah waktu bagi saya mengadu melalui air mata yang menetes dengan menatap langit yang tenang. Beban pikiran yang saya simpan dan tidak diketahui orang meskipun keluarga seperti pesta didalam otak, hanya bisa saya rasakan setiap malam di waktu istirahat dengan menunggu hari esok tiba dan menjalani kehidupan seperti biasa.
Perjalanan perkuliahan saya tidak selalu berjalan mulus. Di tengah usaha menyesuaikan diri dengan dunia kampus, saya pernah mengalami rintangan berat berupa penipuan online yang berdampak pada kondisi finansial dan mental. Kejadian tersebut membuat saya merasa terpukul, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak mempunyai keberanian dalam mengkomunikasikan kepada orang tua. Kondisi finansial yang pada waktu itu saya bergantung pada uang beasiswa semester 2 kian raib di ambil oleh penipu kurang lebih Rp 4.000.000 yang saya gunakan untuk kebutuhan selama diperantauan. Trauma mental terhadap nomor-nomor baru yang tidak dikenal, serta data pribadi yang menjadi sebuah ancaman. Kemandirian dengan mengurus permasalahan tersebut sendiri ke pihak kepolisian membuat saya menjadi lebih berani dan mandiri dalam bertanggung jawab. Berkomunikasi terhadap orang tua yang saya kira buruk ternyata menjadi sebuah penguat dan semangat, mungkin uang tersebut belum menjadi rezeki untuk saya yang pasti akan terganti berkali-kali lipat.
Namun, tekanan tidak berhenti sampai di situ. Omongan dari keluarga yang saya dengar agar saya berhenti kuliah demi menghindari beban ekonomi semakin menguji keteguhan hati saya. Setiap kalimat tersebut terasa seperti keraguan terhadap mimpi yang sedang saya perjuangkan. Namun, alih-alih menyerah, saya menjadikan semua itu sebagai motivasi untuk membuktikan bahwa saya mampu bertahan dan bangkit. Pada fase ini, saya mulai merasakan bahwa permasalahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Baik kondisi finansial, pertemanan, nilai yang tidak sesuai harapan, kesulitan dalam memahami materi tertentu, atau keterbatasan dalam mengatur waktu antara perkulihan dan organisasi. Dengan tekad, kerja keras, dan disiplin belajar yang konsisten, saya perlahan bangkit dari keterpurukan. Semua rintangan tersebut akhirnya terbayar ketika saya berhasil meraih IP 4.00 di semester 3.
Pencapaian ini bukan hanya tentang nilai, tetapi menjadi bukti bahwa keterbatasan, kegagalan, dan keraguan orang lain tidak mampu menghentikan langkah saya dalam memperjuangkan pendidikan. Pada tahap ini, saya sangat bersyukur dan sadar bahwa kehidupan tidak hanya berisi kesedihan, melainkan ada kebahagiaan yang meski tertunda. Saya berat dalam menjalani prosesnya, tetapi saya diberikan mudah dalam mencapai hasilnya. Mencoba bukan berarti selalu gagal tetapi, adalah langkah awal untuk menuju keberhasilan, kalau bukan di mulai dari diri sendiri lalu siapa?
Hal ini, menjadi pembelajaran bagi saya, bahwa kegagalan hadir sebagai pengingat untuk mengevaluasi diri untuk menjadi lebih baik dan memperbaiki strategi belajar dan tidak mudah menyerah. Bangkit tidak selalu berarti mencapai prestasi besar. Bagi saya, bangkit adalah ketika mampu berdiri kembali setelah merasa lelah, kecewa, atau ragu pada diri sendiri. Setiap proses yang saya lalui di semester 3 ini mengajarkan bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba. Perjalanan perkuliahan di semester 3 menjadi fase penting dalam hidup saya sebagai mahasiswa. Melalui proses belajar, kegagalan, dan kebangkitan, saya semakin memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai, tetapi tentang pembentukan karakter dan jati diri.
Setiap pengalaman, baik maupun buruk, memiliki peran dalam membentuk saya menjadi pribadi yang lebih matang dan bertanggung jawab. Ke depan, saya berharap dapat terus melangkah dengan semangat belajar yang konsisten, sikap pantang menyerah, serta komitmen untuk berkembang menjadi mahasiswa Pendidikan Geografi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap lingkungan dan masyarakat. Perjalanan ini masih panjang, dan saya siap menjalaninya dengan keyakinan bahwa setiap langkah kecil hari ini adalah bekal untuk masa depan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar