Syukur Alhamdulillah atas nikmat-Nya
Saya bisa menyelesaikan kegiatan selama semester 6 dengan lancar. Berkat
doa-doa orang terdekat, khususnya orang tua yang selalu membimbing saya dikala
saya galau menghadapi beberapa rintangan di semester 6 yang begitu padat,
sehingga saya mampu menghadapinya dengan pelan-pelan dan penuh langkah
kepastian.
Memasuki
semester 6 artinya selangkah lebih maju dan setingkat lebih tinggi dari
semester sebelumnya. Tidak heran jika semakin kita berada pada tingkat yang
lebih tinggi, maka ujian dan cobaannya juga akan lebih besar. Di semester 6 ini
saya mengambil 24 sks. Mungkin sama seperti teman-teman yang lainnya. Akan
tetapi di semester 6 ini saya mengambil 2 praktikum dalam seminggu, yaitu
praktikum Fisika Atom & Molekul, serta praktikum Fisika Zat padat. Jika
praktikum sebelumnya pretest dan responsi dilakukan bersama asisten, namun pada
praktikum Fisika Zat Padat responsi dilakukan bersama dosen dengan
mempresentasikan hasil praktikum selama satu semester. Kami menyebutnya dengan
sidang prematur. Bagi saya ini adalah pengalaman penting, karena selama
perkuliaham di prodi Fisika sangat jarang adanya kuliah presentasi. Kebanyakan
kami hanya menerima materi dari dosen yang seambrek berupa integral dan
turunan.
Semester
6 ini saya tidak mengikuti kegiatan kemahasiswaan lagi. Namun bukan berarti
saya hanya menjadi KuPu-KuPu (kuliah pulang-kuliah pulang). Karena sampai saat
ini Alhamdulillah saya masih belajar
juga di pesantren, maka saya juga harus bisa membagi waktu untuk kegiatan di
kampus dan di pesantren. Apalagi semakin bertambah tahun tingkat kelas ngaji
juga bertambah susah, sama halnya dengan kuliah. Artinya saya juga harus bisa
dalam menjaga kesetimbangan keduanya agar dapat berjalan dengan baik seiring
seirama.
Menjalani
dua peran berbeda yaitu sebagai santri dan mahasiswa yang sama-sama harus
diperjuangkan tentu saja bukan hal yang mudah bagi sebagian orang. Tapi hal
ini bisa menjadi pembelajaran setiap
hari untuk bisa memperbaiki kualitas diri kita. Meskipun terkadang rasa lelah, bosan,
dan malas selalu ada mengiringi perjalanan hidup, tapi selalu ada motivator
yang terus kembali menguatkan bahwasannya perjuangan ini belum berakhir, yaitu
orang tua.
Di
semester ini saya mengambil mata kuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Alhamdulillah
saya mendapatkan tempat KKN yang nyaman dan bisa menjadi ajang saya untuk
berbagi ilmu walau sedikit sekali. Saya KKN di Pacitan, Jawa Timur tepatnya di
desa Tinatar. Tinatar merupakan salah satu desa yang bisa dibilang desa
tertinggal. Karena masih banyaknya kekurangan yang terjadi pada desa tersebut.
KKN merupakan ajang setiap mahasiswa untuk mempraktikkan atau menerapkan ilmu
yang telah didapatkan selama di bangku kuliah. Selain itu, KKN juga menjadikan
kita mampu membantu problem yang ada dimasyarakat dengan ilmu yang sesuai dan
dibutuhkan. Karena KKN kami adalah KKN Tematik dengan tema ‘Penanganan Pasca
Bencana”, maka kami juga harus bisa membantu menyelesaikan permasalahan di desa
Tinatar yang kebetulan disana baru saja terjadi bencana tanah longsor.
Beberapa
program KKN yang saya lakukan disana adalah melakukan plangisasi petunjuk arah,
perangkat desa dan siaga bencana. Selain program tematik, ada salah satu
program yang diminta langsung oleh bapak kepala desa, yaitu program pelatihan pengurusan
jenazah untuk ibu-ibu. Diadakannya program ini karena di desa Tinatar masih
sangat kurang edukasi tentang keagamaan meskipun mayoritas adalah muslim.
Alhamdulillah saya ditunjuk untuk menjadi PJ kegiatan ini. Bersama teman-teman
dan ibu-ibu saya mulai melakukan sosialisasi dan pelatihan pengurusan jenazah,
mulai dari memandikan sampai mengkafani jenazah. Saya sangat bersyukur dengan
hal ini, karena ilmu yang sudah saya dapatkan di pesantren bisa bermanfaat
untuk masyarakat. Selain itu, saya juga banyak menghabiskan waktu selama KKN
untuk mengajar anak-anak di SDN 2 Tinatar. Di SDN 2 Tinatar tenaga pendidik
sangat kurang mengingat siswa-siswinya yang cukup banyak. Disana hanya ada 3
guru PNS. Jadi tidak heran jika selama KBM berlangsung banyak anak-anak yang
terlantar dan main di lapangan karena gurunya harus dibagi-bagi tugasnya untuk
kelas yang lain. Saya bersama teman-teman juga mengajar pengajian Al-quran juga
untuk anak-anak disana. Kebanyakan dari mereka belum bisa mengaji dengan baik
meskipun sudah kelas atas. Karena disana tenaga pengajar ngaji masih sangat
kurang, jadi mereka hanya mengikuti pengajian Al-quran setiap ada anak-anak KKN
saja.
Dengan
adanya kegiatan KKN ini, saya lebih mengerti dan memahami bahwasannya ketika
kita sudah terjun di dalam masyarakat bukan lagi nilai yang dibutuhkan,
melainkan ilmu dan pengalaman yang dapat kita bagikan kepada masyarakat. Namun
tidak bisa dipungkiri bahwa nilai juga menjadi tolak ukur seberapa ilmu yang
sudah kita dapatkan. Jika kita berada pada dunia kerja, nilai menjadi hal utama
yang dipertimbangkan selain skill yang mumpuni. Oleh karena itu, antara nilai
dan ilmu yang bermanfaat keduanya sangat dibutuhkan untuk membantu kelangsungan
hidup kita di dunia. Dan KKN menambah rasa syukur saya kepada-Nya karena nikmat
yang telah diberikan kepada saya ternyata sangat-sangat banyak melebihi mereka
di sana. Saya disini bisa mendapatkan pendidikan umum dan agama dengan sangat
layak dan saya juga bisa berada diantara orang-orang hebat.
Alhamdulillah,
semester 6 ini saya bisa kembali mendapatkan IP semester lebih dari 3,00. Saya
belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwasannya semuanya butuh proses. Tidak
ada keajaiban di dunia ini yang tiba-tiba mendatangi kita tanpa campur tangan
Allah. Dan saya yakin bahwa setiap manusia akan melewati dan mendapatkan
kemenangannya pada waktunya masing-masing. Jika kita belum bisa mendapatkan apa
yang kita targetkan, tetap semangat dan terus berusaha bahwa hasil itu tidak
akan mengkhianati usaha. Tetap semangat menjalani kuliah, semangat memperbaiki
kualitas diri dan jangan pernah lupa libatkan Allah dalam setiap langkah dan
segala urusan. J
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar