Cukup tak terasa
kuliah saya sudah berjalan 3,5 tahun yang itu tandanya sudah tujuh semester
saya lalui. Di semester tujuh kemarin kegiatan perkuliahan hanya menyisakan dua
mata kuliah dan skripsi. Sementara soal organisasi masih dihadapkan dengan
setengah tahun kepengurusan. Beberapa kegiatan di dalamnya pun sudah tidak
terlalu intens saya jalani. Meskipun terdapat agenda tahunan paling besar di
organisasi yang dikenal dengan nama Gebyar Brawijaya Qurani (sebuah perlombaan
di bidang Alquran untuk pelajar SMA/MA/SMK se-derajat). Namun peran saya
diacara tersebut tidak terlalu berat, karena kebetulan saya membantu adik-adik
organisasi sebagai Steering Committee (SC)
yang memiliki tugas untuk mengontrol dan memberi arahan satu atau beberapa
divisi yang bertugas. Alhamdulillah acara Gebyar Brawijaya Qurani yang ke-5
waktu itu berjalan dengan lancar dengan beberapa evaluasi tentunya terutama
divisi acara umum yang saya bimbing. Namun yang saya syukuri beberapa evaluasi
tahun lalu telah dipelajari dengan cukup baik oleh adik-adik. Waktu itu saya
cukup lega lagi puas dengan agenda saya yang telah jelas terlihat dan tentunya
harus saya jalani dengan maksimal. Sudah fix beberapa agenda tersebut antara
lain: SC GBQ 6, kuliah dua mata kuliah dan skripsi.
Namun di
tengah-tengah hiruk pikuk persiapan acara GBQ 6, muncul isu tentang pelaksanaan
MTQ UB yang akan dilaksanakan tidak jauh dari pelaksanaan GBQ 6 bahkan
kemungkinan bisa bersamaan. MTQ UB merupakan program kerja dari kemahasiswaan
rektorat untuk menjaring calon kontingen UB untuk MTQMN 2019. Dan kebetulan UKM
Seni Religi (organisasi yang saya ikuti) sudah langganan untuk diserahi tugas
dalam meng-handle acara tersebut.
Meskipun keputusan penanggalan MTQ UB yang berdampingan dengan pelaksanaan GBQ
6 masih belum tetap, namun saya merasa keputusan itu bukan sebuah hal yang
realistis. Pasalnya kami anak Seni Religi masih disibukkan dengan adanya GBQ 6,
masa harus juga ngurusin agenda lain yang bisa dibilang sama besarnya.
Persoalan tersebut masih terus menjadi perdebatan di kalangan mahasiswa pada
umumnya, bukan hanya Seni Religi. Sebab, keputusan yang ada dinilai sangat
mendadak. Saya tidak terlalu mengambil pusing hal tersebut, sebab divisi acara
umum GBQ 6 masih menjadi tanggung jawab saya meskipun tidak secara langsung.
Dua mata kuliah yang saya ambil juga masih lancar-lancar saja tanpa hambatan.
Namun, keadaan itu tidak berlangsung lama setelah teman saya yang menjadi Ketua
1 UKM Seni Religi memberitahukan sebuah hal yang penting kepada saya. Hal
penting tersebut adalah soal MTQ UB. Ternyata dia meminta saya untuk menjadi
Ketua Pelaksana MTQ UB dari kalangan mahasiswa. Sebelumnya saya sudah punya
firasat bahwa tugas yang cukup berat itu bakal jatuh kepada para SC GBQ 6,
karena memang para SC tidak secara langsung disibukkan dalam pelaksanaan GBQ 6
yang mana acara tersebut bakal berdampingan dengan MTQ UB. Dan mau tidak mau
saya harus mengambil amanah tersebut.
Dan setelah itu, saya
pun berfikir keras bagaimana MTQ UB dapat terselenggara dengan alokasi waktu
yang tidak banyak. Beberapa kali saya dan para senior panitia MTQ dari
mahasiswa mengajak diskusi rektorat dan beberapa wakil dekan tiga tentang
pelaksanaan MTQ UB. Semua pertimbangan dampak positif dan negatif coba kami
paparkan sebagai pertimbangan mereka tentang pelaksanaan MTQ UB yang terlalu
mepet, harapannya MTQ UB bisa dilaksanakan dengan timeline awal kami di
semester depan. Ternyata beberapa pemaparan dari senior kami membuat para
pejabat rektorat dan fakultas memikirkan ulang keputusan yang telah mereka
ambil. Singkatnya, setelah melewati serangkaian diskusi dan pertimbangan yang lama
akhirnya keputusan yang paling akhir adalah MTQ UB diundur dan dilaksanakan
pada semester depan. Disitu saya merasa lega. Namun, setelah saya merenung
sejenak, semester depan merupakan saat saat yang cukup berat bagi saya.
Pasalnya, semester depan saya sudah memasuki semester delapan dan skripsi yang telah
saya ambil di semester tujuh terlewati begitu saja tanpa sentuhan sedikitpun
karena saya sudah terlanjur asyik dengan dinamika kegiatan organisasi di tahun
terakhir kepengurusan. So, the conclusion
is sama saja. Saya tetap harus berfikir keras lagi mengerjakan skripsi dari
awal dengan nyambi membantu persiapan
pelaksanaan MTQ UB di semester delapan. Yaa mau tidak mau harus begitu, karena
saya sudah terlanjur mengiyakan permintaan atau amanah tersebut waktu itu.
Mohon doanya saja agar skripsi lancar dan bisa lulus di waktu yang tepat.
Aamiin…3x (Atz)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar