Semester 6, Akhir, Awal Dan Corona
Assalamualaikum wr.wb, salam sejahtera untuk semua
Semester 6. Semester terakhir adanya Praktikum di
Jurusan. Semester terakhir dibuat sibuk tugas prkatikum, dan semester terakhir
buatku bersenang-senang karena harus cepat memikirkan tugas akhir dan skripsi.
Sebelum itu disini saya akan menceritakan beberapa pengalaman yang menarik di
semester 6 ini. Jika saya bagi, semester 6 ini ada 2 fase, sebelum pandemic
corona mewabah, dan saat atau setelah pandemic corona ini melanda. Fase yang
pertama berakhir ketika UTS dan fase kedua berawal setelah UTS.
Pada fase pertama ini sebenarnya Corona sudah
mewabah di luar negri dan mungkin saja di Indonesia namun kurang diperhatikan.
Semuanya berjalan seperti biasanya, dimana di semester 6 ini saya mengambil 24
sks dengan praktikum yang bisa dibilang berat-berat yaitu Praktikum Geologi
Teknik dan Praktikum Geologi Minyak dan Gas Bumi. Sedikit penjelasan dari saya,
dimana praktikum Geologi Teknik merupakan praktikum yang berbasik aplikasi
geologi dalam bidang keteknikan seperti Terowongan, Dam, Jalan, Tambang,
Kelerengan, Kelongsoran dll. Sedangkan Praktikum Geologi Minyak Gas dan Bumi
merupakan praktikum yang mempelajari tentang miyak dan gas bumi yang meliputi
proses pembentukannya, pencarian reservoir, perhitungan cadangan, serta analisa
reservoir. Keduanya menurut saya mempunyai tingkat kesulitan masing-masing,
dimana geotek lebih mengedepankan perhitungan dan desain untuk keteknikan
dengan segala perhitungannya yang lumayan ribet, sedangkan Geologi migas dengan
rumitnya genesa, reservoir yang prospek, penentuan prospek atau tidaknya dll.
Beberapa keluh kesah pada fase ini sebenarnya sama dengan semester sebelumnya
dimana jarang tidur akibat tugas praktikum yang tidak ada habisnya.
Sampai di ujung sebelum uts berita tentang covid menyebar dan salah satu diantara kami ada yang positif dikarenakan sehabis lomba di Jakarta. Kami pun bingung dan UTS pun harus tetap berlanjut namun dari kos atau rumah masing-masing. Saya dan teman-teman memutuskan untuk tetap tinggal di jogja sampai kami aman dari dinyatakan negative dari virus tersebut. Jadi kami isolasi diri kos masing-masing di jogja. Hanya dengan hitungan jam jogja yang awalnya sangat rame berubah menjadi kota sangat sepi, banyak berita disana-sini tentang kematian karena covid, blokade di gang-gang, banyak tempat makan yang tutup dan susah bagi kami untuk membeli makanan. Setidaknya selama 14 hari kami bertahan dengan makan seadanya dan stock makan hingga rebutan membeli masker dan hand sanitizer. Untung saja ada bantuan dari kampus untuk makan dan masker selama 1 minggu sehingga cukup membantu kami. Kami ingin pulang namun takut keluarga dirumah tertular. Tapi jika tidak pulang mungkin kami yang kesusahan hidup di sini sendirian. Hingga akhirnya kami melakukan tes dan negative dan kami pun bergegas untuk pulang ke kampung halaman masing-masing.
Fase kedua, merupakan periode setelah UTS dimana
periode ketika corona sudah mewabah di Indonesia. Pada fase ini semua mahasiswa
di Jogja dipulangkan ke daerahnya masing-masing, bahkan mungkin seluruh
Indonesia. Pembelajaran pun sempat tertunda dan memulai pembiasaan baru dengan
cara online, cara online ini menurut saya tidak efektif untuk mahasisawa
teknik, dikarenakan mahasiswa teknik sendiri memerlukan sentuhan secara fisik
terhadap alat ataupun paraktikum yang nantinya akan dilakukan. Karena jika
hanya dari rumah masing-masing mungkin kita hanya mendapatkan materinya saja,
itupun ada yang sambil makan, tidur dan main game mungkin. Nah hal ini jelas
sangat tidak efektif dalam pembelajaran, namum kami dituntut untuk beradaptasi.
Praktikum dan semua mata kuliah pun dibuat online. Saya pulang kampung ke
kandangan, dimana banyak kendala yang terjadi jika harus kuliah online,
diantaranya yaitu sinyal yang kurang bagus dan listrik yang tiba-tiba padam, apalagi
jika hujan melanda pasti sinyal susah untuk
live di zoom dan apliaksi lainnya, sedangkan semua pembelajaran
dialihkan ke situ. Yang membuat saya kewalahan selanjutnya yaitu praktikum
secara online. Dimana biasanya kami mengambil data primer sendiri dari awal
hingga akhir, nah sekarang hanya dengan data sekunder dengan penjelasan secara
online juga yang bukannya tambah mengerti tapi tambah bingung. Ketidaksiapan
ini dialami hampir seluruh universitas, maka dari itu kita dituntut untuk
survive dan bisa bertahan dalam keadaan ini, antisipasi dari saya yaitu
perbanyak lagi kerja kelompok walaupun secara online dengan teman-teman dan
aslab untuk membahas mata kuliah atau pelajaran yang belum dimengerti dan
melakuakn diskusi terhadap suatu masalah. Yang berbeda dari tahun sebelumnya
yiatu tugas akhir tiap praktikum di presentasikan secara online. Dari sisi
postif adanya corona ini sendiri yaitu semakin kita didekatkan dengan keluarga
karena harus dirumah hingga semester berakhir, dan merupakan liburan terpanjang
yang kami dapatkan.
Di fase kedua ini ada 1 mata kuliah yang harusnya di
ambil di akhir semester harus tertunda hingga terlaksana pada bulan
September-Oktober 2020. Mata kuliah tersebut yaitu Kuliah Lapangan Pemetaan
Geologi,dimana mata kuliah ini memang tidak bisa di buat online dikarenakan
menyangkut bekal seorang geologist ketika di lapangan dan merupakan nilai
penentu sebelum dilakukannya skripsi. Awalnya kami semua ragu untuk datang ke
jogja diakrenakan situasi menurut zona dimana jogja merupakan salah satu daerah
dengan penderita covid lumayan tinggi juga. Namun kami sepakat satu angkatan
untuk tetap datang ke jogja dengan beberapa protocol kesehatan yang harus diapatuhi
yaitu karantina selama 14 hari di kos masing-masing, tidak berkumpul dan
membuat keramaian, jika harus berkumpul menggunakan masker, membawa hand
sanitizer, tidak bersalaman dan menjaga jarak.
Hingga akhirnya kami semua bisa melaksanakan
pemetaan geologi ini pada bulan September-Oktober, kuliah lapangan ini dibagi
menjadi 3 tahap yaitu sebelum, sesaat, dan sesudah. Sebelum kegiatan
dilaksanakan maka diadakan pembekalan selama 1 minggu yang dilakukan secara
tatap muka langsung di kampus dengan protocol kesehatan. Lalu fase saat
kegiatan kuliah lapangan dilaksanakan dimana dilaksanan selama 10 hari di
daerah Kulonprogo dan Bantul untuk
melakukan pemetaan serta pengambila data dilapangan. Kemudian setelah lapangan
dilaksanakan analisa lab dari data yang kita ambil untuk nantinya sebagai data
pemdukung saat presentasi akhir. Kuliah lapangan ini banyak tantangannya dimana
ketika dilapangan dengan skalan 2,5*3 km kami dibagi menjadi tim dengan jumlah
anggota 5 orang. Dimana tugas kami memetakan sesuai yang ada di lapangan batuannya
dan gejala alam lainnya, dimana dalam kenyataannya daerah yang kami dapat cukup
jauh dari kampus, sekitar 1 jam ke arah selatan dari kampus yaitu di daerah
Dlingo, Bantul.
Didalam peta kavling kelompok kami sendiri medannya
cukup terjal, dimana berupa perbukitan dan juga lereng dengan jalan yang
berliku-liku, sebagian dari daerah pemetaan kami berupa perkebunan warga dan
hutan dimana tidak bisa dilewati motor dan kami harus jalan kaki untuk susur
sungai dan susur hutan serta susur lereng. Tantangan lainnya yaitu tidak adanya
sinyal, serta tidak adanya tepat maka dan warung, sehingga kami harus membawa
perbekalan sendiri untuk satu hari penuh. Kegiatan itu kami lakukan setiap hari
dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Namun menurut saya walaupun itu sangat
menantang namun saya merasakan bahwa ini baru kegiatan lapangan sesungguhnya
dimana pikiran dan tenaga terkuras dengan kenyataan yang ada di alam dan tidak
dibatasi oleh layar. Semakin pusing sih sebenarnya, namun semakin ingin
mengerti tentnag bumi ini lebih jauh lagi. Dan saya rasa tidak ada yang percuma
ketika pekerjaan dilakukan dengan sunguh-sungguh dan dengan niat yang tulus.
Selama corona tidak mengurangi kegiatan atau
aktivitas saya di luar belajar , kuliah dan praktikum. Saya juga mengikuti
recruitmen BEM Fakultas Teknologi Mineral
dan Alhamdulillah diterima sebagai ketua divisi dari divisi Sumber Daya
Manusia yang menaungi dibidang minat dan bakat seperti kepemimpinan, kesenian,
keagamaan dan olahraga. Selain itu juga saya megikuti beberapa pelatihan soft
skill dalam bidang pertambangan, dan melakukan olahraga sepakbola seperti
biasanya. Saya juga megikuti beberapa kegiatan yang diadakan teman-teman
gemilang yaitu bagi-bagi masker hand sanitizer dan sosialisasi pentingnya
menggunakan masker dan hand sanitizer kepada warga daerah Pesanggaran dan
Siliragung.
Sekian dari saya, mohon maaf jika ada salah kata,
wassalamualaikum wr.wb




Tidak ada komentar:
Posting Komentar