Full width home advertisement

EVENT

Post Page Advertisement [Top]

 

ASSALAMU’ALAIKUM WR,WB

Pertama-tama saya ucapkan terimakasaih kepada Allah Swt, Yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan sampai pada titik akhir dalam perkuliahan ini.Dan tak lupa pula kepada kedua orang tua saya yang selalu memberikan suport selama ini.Kepada PT.Bumi Suksesindo tentunya saya menyampaikan banyak-banyak terimakasaih yang selama ini banyak membantu.

Sedikit banyaknya lika liku kehidupan di perkuliahan dari awal masuk sampai di titik ini dan mugkin banyak drama yang terjadi,dari awal masuk perkiliahan yang belum bisa menyikapi kehidupan di perkuliahan  yang awalnya hanya bersenang-senang dengan teman baru suasana kehidupan yang baru tentunya dengan pengalaman yang baru,mungkin di awal semester saya belum ada bayangan betapa sulitnya menghadapi semester akhir yang katanya ‘’sulit’’.Dan saat saya sampai pada semester 5 mulai merasakan tugas-tugas semester 5 yang cukup rumit di saat itu munculah bau – bau semester tua,dan pertama kali mendapati tugas mini proposal dengan awal menentukan tempat studikasus untuk mengangkat sebuah judul,banyak juga keluh kesah dari teman-teman.

Sampailah di semester 6 yang mana disemester itu saya ditugaskan untuk praktek pengalaman lapang yan (PPL) di sebuah perusahaan selama 30 hari kerja dan kebetulan saya bertempat di DINAS KOPERASI UMKM Jember.Setiap harinya saya harus mengikuti jadwal perusahaan dan membuat laporan yang akan dikumpilkn serta di ujikan pada akhir ppl.Berlanjut dari kegitan kampus yaitu KKN (Kuliah kerja nyata) yang mana bertempat di kota Lumajang.Dan sampai semester akhir mulai masuk pada tahap skripsi dari awal pengajuan judul yang melibatkan ttd dosen yang setiap harinya penuh drama karna selalu ada kegiatan lain sehingga susah ditemui,memerlukan kesabaran yang penuh untuk mencapai di titik dimana judul itu di ACC dan mendapatkan dosen pembimbing dari saat itu mulailah opservasi awal di tempat penelitian dan tentunya semakin sering menemui dosen pembimbing.

Selain itu butuh sabar mental yang kuat untuk menghadapi pertanyaan “Gimana skripsinya?,” itulah pertanyaan favorit yang kerap menghujani mahasiswa tingkat akhir. Memang terkesan perhatian, namun jika tak disikapi dengan bijak terkadang cukup menjemukan. Tak hanya itu sebenarnya. Pertanyaan lain yang senada pun kerap menjadi pilihan. “Sudah komprehensif?.” Ya, itulah pertanyaannya. Menempati favorit kedua setelah pertanyaan yang berbau skripsi. Pertanyaan berbau basa basi yang bertopik skripsi dan yang lainnya memang seringkali terdengar di lingkungan kampus. Khususnya diantara mahasiswa tingkat akhir. Baik itu akhir semester tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas, atau empat belas. Tak hanya pagi, siang, sore, bahkan malam pun tak jarang menyelinap melalui media handphone. Dan dalam berbagai variasi kalimat. Seperti, “Piye skripsimu?,” “Progresnya sudah sampai mana?,” “Eh, kemarin katanya bimbingan ya? Gimana hasilnya?.” Atau yang lebih menyakitkan, “Rencana ujian sidang skrpsi kapan?” padahal skripsinya-pun belum beres. Mungkin itu yang dirasakan oleh si mahasiswa tingkat akhir. Terlebih jika progres skripsinya berjalan begitu lambat. Dan sangat lambat. Nyaris berjalan di tempat. Bayangan jadi mahasiswa abadi pun mulai berkelebatan. Rasa sesal karena tak serius kuliah sejak semester pertama mulai terpikirkan. Apalagi jika mengingat masih menjadi tanggungan orang tua. Seakan menjadi orang yang tak berguna. Tapi begitulah riwayat perjalanan mahasiswa tingkat akhir. Selalu penuh dengan warna dan cerita. Kaya akan sensasi yang memacu adrenalin. Mulai dari dosen pembimbing yang super teliti, ujian komprehensif yang belum mendapat takdir, hingga mata kuliah yang bermasalah, menjadi rangkaian episode yang terajut dengan kusut.

Teringat sebuah jargon yang saya temukan di salah satu media jejaring sosial, “Tuhan Bersama Mahasiswa Tingkat Akhir.” Memang ada benarnya jika tak disebut memang sangat benar. Ibaratnya manusia pada umumnya, Tuhan, Allah SWT, senantiasa berpihak untuk kebaikan manusia. Tak hanya mahasiswa tingkat akhir. Namun, seperti kata para ustadz yang sering menyampaikan ceramah agama itu, bahwa manusia sering menjadi alim ketika dalam posisi kepepet. Sehingga menjadikannya semacam tempat pelarian. Dan bagi mahasiswa tingkat akhir, barangkali jargon itulah pelariannya. Atau, setidaknya menjadi sebuah alibi yang menentramkan hati.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib